Dampak Penggunaan Sosial Media di Zaman Modern
- Masalah Umum Manusia Modern
Prinsip hidup modern memberi pandangan bahwa setiap individu dapat diukur berdasarkan nilai – nilai pencapaian pribadi dalam bentuk karir yang cemerlang, kesejahteraan, pencitraan pribadi, dan konsumerisme.
Kegagalan mengaktualisasi diri yang sejalan dengan prinsip tersebut, membuat banyak orang gagal diterima dalam sosial, bahkan sampai kehilangan relasi keluarga.
Maka tidak heran kalau terlampau banyak orang sekarang mendapati diri-nya merasa kesepian.
Prinsip hidup modern juga memberi pandangan bahwa waktu adalah uang — disertai tekanan dari sekitar agar terus-menerus mendapat pencapaian lebih, orientasi pergaulan-pun bergeser menjadi ajang pencapaian.
Kemudian media sosial hadir menawarkan gagas-an bahwa setiap orang bisa senantiasa terhubung satu sama lain. Hal itu diharapkan bisa menjadi solusi guna mewadahi hasrat rentan bagi manusia modern — yakni ‘rasa kesepian’.
- Fenomena Dalam Dunia Virtual
Pada mula-nya, media sosial cuma sebatas sebagai media pencari teman. Tapi, kita malah ketagihan dengan interaksi virtualnya karena disediakan panggung yang membiarkan kita untuk mengatur bagaimana kesan kehidupan sosial kita secara efektif sesuai kehendak kita.
Inilah yang membuat kita menghabiskan waktu berjam – jam, karena sibuk memilih gambar ter-baik untuk membangun profil yang sesuai hasrat pencitraan pribadi. Selain itu dengan berkomunikasi lewat teks, membuat kita kian leluasa untuk melakukan editing; yang berarti kita bebas menghapus, merevisi guna mengejar tatanan kata optimal untuk pesan teks selanjut-nya.
Dengan demikian, nilai pertemanan telah terdegradasi menjadi ajang promosi diri. Intimasi per-temanan terkonversi menjadi sekedar pertukaran foto dan teks. Perbincangan telah dikorbankan demi sekedar koneksi. Kualitas pertemanan telah terganti dengan kuantitas.
- Dunia Virtual Merubah Dunia Nyata
Aktivitas kumpul bersama teman di dunia nyata pun tidak kalah janggal karena intensitas perca-kapan langsung menjadi berkurang. Satu sama lain hanya sibuk dengan smartphone-nya masing – masing.
Banyak detil aspek komunikasi hilang karena perhatian hanya tertuju pada hal – hal yang dianggap menarik dalam dunia virtual saja. Situasi paradox tercipta dimana kita mengclaim punya banyak teman selagi sebenarnya sendirian. Mungkin, isti-lah ‘bersama dalam kesendirian’ adalah kata yang tepat untuk mewakili fenomena ini.
Paradox Media sosial: “Mendekatkan yang jauh sekaligus menjauhkan yang dekat”
Ide dimana kita tidak pernah sendiri adalah sentral dalam merubah kondisi kejiwaan kita. Kita telah tergelincir pada pemikiran bahwa dengan se-lalu terhubung, kita tak akan lagi merasa sendiri. Kita di tengah resiko karena realita malah menunjukan sebaliknya. Jika hal ini terus berlanjut,
“maka generasi mendatang hanya akan tahu bagaimana caranya kesepian.”
Tanpa disadari, smartphone telah menjelma sebagai instrumen psikologis yang amat dahsyat. Tapi instrument hanyalah instrument. Jadi, tidak ada sifat bawaan baik atau jahat dari sebuah penerapan teknologi. Selama kita bijak dan sadar dalam menggunakan teknologi, semua bakal baik – baik saja.
