Observatorium Mohr – Observatorium Bergaya Klasik Khas Eropa yang Pernah Ada di Indonesia
Gedung Observatorium Mohr di Batavia dilihat dari sisi timur dan utara.
Observatorium Mohr dibangun Johan Maurits Mohr pada tahun 1765 dan aktif melakukan observasi langit dan fenomena alam sampai sepuluh tahun kemudian. Bangunan ini merupakan observatorium yang pertama kali dibangun oleh orang Eropa di Asia. Bangunan observatorium ini dulu terletak di sisi timur Wihara Dharma Bhakti, Petak Sembilan, Glodok, Jakarta Barat. Selama sepuluh tahun beraktivitas, observatorium tutup setelah Johann Mauritz Mohr wafat pada 25 Oktober 1775. Hal itu karena tidak ada masyarakat di Batavia yang dapat melanjutkan pekerjaan Mohr dan mengetahui kinerja observatorium. Gempa 1780 yang melanda Batavia menghancurkan sebagian besar bangunan observatorium. Gempa kuat ini membuat bangunan observatorium rusak berat.
Gedung Observatorium Mohr yang berada di sisi timur Wihara Dharma Bhakti.
Saat istri Mohr wafat sekitar dua tahun setelah gempa, bangunan yang telah rusak itu dijual. Pada tahun 1784, bangunan ini beralih jadi miliknya Willem Vincent van Riemsdijk yang merupakan keluarga Gubernur Jenderal Hindia Belanda Jeremias van Riemsdijk. Willem lantas mengubah bangunan observatorium menjadi penginapan sebelum Gubernur Jenderal Daendels menutupnya. Daendels mengubahnya bangunan ini jadi barak tentara. Sebagian bangunan observatorium masih tersisa hingga 1812. Akan tetapi, pada tahun 1844 hanya tinggal pondasinya saja.
Observatorium Mohr.
Observatorium Mohr ini merupakan bangunan enam lantai dan pada saat itu merupakan bangunan tertinggi di Batavia yang menjulang hingga setinggi 30,5 meter dari permukaan tanah. Biaya pembangunan Observatorium Mohr mencapai 200.000 gulden atau hampir dua kali lipat lebih mahal jika dibandingkan dengan ongkos pembangunan istana Gubernur Jenderal VOC di Buitenzorg yang kini menjadi istana Bogor. Observatorium Mohr dibangun dengan gaya arsitektur Barok Akhir atau Rococo.
