Mengenal Samin Surosentiko – Pahlawan yang Belum Tercatat di Sejarah Resmi RI.
Beliau pahlawan karena melawan Belanda dan belum tercatat di sejarah resmi RI.
Pak Samin Surosentiko, berasal dari Blora Jawa Tengah. Jika India punya Mahatma Gandhi, Indonesia punya Pak Samin. Beliau melawan Belanda tanpa kekerasan dengan mengajak orang melakukan pembangkangan. Beliau dan pengikutnya menolak membayar pajak, tidak pake bahasa jawa halus kalo berbicara dengan pejabat-pejabat & birokrat kolonial, termasuk yang pribumi, serta menolak taat sama aturan yang dibikin kompeni.
Sejak 1890 dia mulai menyiarkan ajarannya di desa Klopodhuwur. Banyak orang dari desa tersebut terpengaruh, kemudian juga desa sebelahnya, Tapelan. Pemerintah kolonial awalnya tak ambil pusing. Menurut Saripan Sadi Hutomo dalam tulisannya “Samin Surontiko dan Ajaran-ajarannya” di majalah Basis (Januari, 1985), berdasar Laporan Residen Rembang Januari 1903, terdapat sekitar 772 pengikut Samin di 34 desa daerah Kabupaten Blora.
Awalnya, pemerintah kolonial tak ambil pusing. Barulah di tahun 1905, pemerintah kolonial mulai pusing. Pengikut-pengikut Samin itu tak sudi lagi bayar pajak. Jumlah pengikutnya pun terus bertambah. Tahun 1907, jumlah pengikut Samin mencapai 5.000 orang. Maret 1907, muncul isu adanya pemberontakan. Sehingga para pengikut Samin yang hadir dalam acara syukuran di desa Kedhung Tuban ditangkapi. Bulan 8 November 1907, para pengikut Samin makin menggila. Mereka mengangkat Samin sebagai Ratu Adil dengan gelar Prabu Pangeran Suryangalam.
Aparat kolonial pribumi mulai khawatir dan bertindak. Raden Pragola, Asisten Wedana di Randublatung di Blora segera menangkap sang Ratu Adil pada hari ke 40 setelah pengangkatan itu. 18 Desember 1907, Samin dikurung di bekas tobong pembaran batu gamping. Dia kemudian dibawa ke Rembang untuk diperiksa. Bersama pengikutnya yang tertangkap, Samin akhirnya dibuang ke Padang, Sumatra Barat, agar jauh dari para pengikutnya. Setelah Samin, setidaknya di tahun 1908, pengikut Samin yang giat menyebarkan ajaran Samin bernama Wongsorejo di distrik Djiwan juga dibuang.
Meski dibuang, ajaran Samin jalan terus di sekitar Randublatung. Seperti dilakukan Surohidin, menantunya. Murid Samin yang terkenal antara lain Engkrak yang menyebarkan ajaran Samin di Grobogan, lalu Karsiyah di Kajen. Aksi tolak pajak pun menghebat di tahun 1914, tahun di mana Samin meninggal di pembuangannya. Nama Samin dicitrakan sebagai hal buruk. Pengikut-pengikutnya, yang disebut orang Samin, terus hidup dan tak suka dipaksa oleh pihak manapun. Samin dan pengikutnya, juga sebagian orang yang bukan pengikutnya, adalah orang-orang yang berkemauan keras dan tak suka dipaksa. Hingga sekaran, nama beliau ‘Samin’ dipake sebagai cemoohan untuk orang yang suka membangkang dan tidak taat aturan di seputaran jawa tengah & timur.
