Merasa Tulisan & Ucapan Akademisi Sulit Dipahami oleh Orang Awam? Ternyata Ini Alasannya
Tulisan & Ucapan Akademisi Sulit Dipahami oleh Orang Awam Sebenarnya, ada tiga alasan mengapa hal ini bisa terjadi. Sebagai orang awam, mungkin kita sering merasa kesulitan untuk memahami informasi yang disampaikan oleh seorang akademisi atau ilmuwan. Kita mencoba membaca tulisannya, kok rasa-rasanya sulit ya untuk dipahami?
Ilustrasi seorang akademisi sedang mempresentasikan penelitiannya)
Nah terkait masalah ini, sebenarnya tidak hanya ditemui di Indonesia saja. Di konteks masyarakat lain, kasus ini sering kali juga terjadi. Nah, kira-kira kenapa ya?
Setidaknya, ada tiga hal yang mungkin menjadi penyebab terjadinya hal ini. Mari kita bahas satu-persatu.
1. The curse of knowledge—Akademisi dan ilmuwan sering kali memiliki ‘Blind-spot’.
Seorang akademisi atau ilmuwan itu bisa dibilang mungkin memiliki ilmu yang lebih luas dibandingkan dengan rata-rata orang pada umumnya. Namun, seringkali mereka tidak menyadari akan hal ini. Banyak dari mereka yang mungkin memiliki anggapan bahwa hal yang mereka ketahui dan pahami, itu juga dimengerti oleh semua orang. Efeknya, ketika mereka menjelaskan sesuatu, mereka memaparkan informasi yang ingin mereka sampaikan dengan asumsi bahwa orang yang menjadi lawan bicaranya juga memiliki pengetahuan yang sama. Padahal, lawan bicaranya belum tentu memahami apa yang ia sampaikan. Di sinilah miskomunikasi terjadi. Lawan bicaranya menjadi bingung.
2. Beberapa akademisi dan ilmuwan ingin show-off.
Meski tidak semua akademisi dan ilmuwan seperti ini, akan tetapi tak dipungkiri bahwa beberapa ‘oknum’ mungkin memiliki kebanggaan tersindiri akan titel keilmuwan yang dia miliki. Oleh sebabnya, ia berusaha untuk ‘show-off’ dengan berbicara menggunakan bahasa yang kompleks dan sulit untuk dipahami oleh orang lain. Mengapa? agar nampak cerdas dihadapan orang lain. Sikap yang kurang baik ini pada akhirnya memberikan jarak antara akademisi dan orang awam. Hal ini juga pada akhirnya dapat mengurangi kebermanfaatan dari ilmu yang dimiliki. Mengapa? karena pada akhirnya pengetahuan yang ia pahami tidak bisa dicerna oleh orang lain, karena ia memilih untuk menggunakan bahasa yang sulit dimengerti agar nampak ‘cerdas’. Ini juga sebenarnya alasan mengapa seorang akademisi atau ilmuwan harus lebih ‘membumi’.
3. Beberapa akademisi atau ilmuwan memiliki kecakapan yang rendah.
Beberapa akademisi mungkin masih memiliki kecakapan ilmu yang rendah. Mereka sebenarnya tidak memahami apa yang ia pelajari, namun malu untuk mengakuinya. Oleh karenanya, ketika ia kemudian menjelaskannya ke orang lain, orang yang dijelaskan menjadi tidak paham karena sebenarnya ia sendiri juga tidak paham dengan apa yang ingin dijelaskan. Ditambah lagi, masih ada anggapan di beberapa kalangan masyarakat bahwa ‘semakin sulit dipahami sebuah tulisan atau ucapan, maka semakin cerdas orang tersebut’. Miskomunikasi dan misinformasi kemudian terjadi.
Tiga poin di atas adalah hal yang mungkin sering menjadi akar penyebab munculnya gap antara dunia akademisi dengan masyarakat awam. Jika seorang akademisi ingin memberikan kebermanfaatan yang lebih luas kepada masyarakat, ketiga hal tersebut hendaknya mulai sedikit demi sedikit diubah. Tak perlu buru-buru memaksa orang lain, perubahan ini bisa dimulai terlebih dahulu dilakukan dari dalam diri.
