Bagaimana Proses Perubahan Ejaaan Bahasa Indonesia Hingga Seperti Ejaan Pada Saat Ini?
Ejaan bahasa Indonesia sudah berganti ejaan sebanyak tiga kali. Sebelumnya, bahasa Indonesia menggunakan Ejaan Van Ophuijsen (ejaan Van Ophuijsen) yg dipakai di jaman penjajahan Belanda.
Ejaan ini diperkenalkan pada tahun 1901 oleh ahli bahasa berkebangsaan Belanda kelahiran Solok, Sumatera Barat, Prof. Charles Adriaan Van Ophuijsen. Dan ditulis dalam sebuah buku berjudul Kitab Logat Melajoe.
CharlesCharles AdriaanAdriaan VanVan OphuijsenOphuijsen
Contoh paling umum dari ejaan ini adalah
- TJ dibaca menjadi C
- DJ dibaca menjadi J
- J dibaca menjadi Y
- OE dibaca menjadi U
Contoh iklan jadul dengan ejaan Van Ophuijsen
Perubahan pertama terjadi pada era orde lama, Sukarno yg tidak suka dengan segala sesuatu yg berbau Belanda memerintahkan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan kala itu Soewandi Notokoesoemo, untuk menyempurnakan ejaan dalam bahasa Indonesia.
Jadilah Ejaan Soewandi (Ejaan Soewandi) atau yg juga dikenal sebagai ejaan Republik yg diperkenalkan pada 19 Maret 1947 oleh Menteri Soewandi
Soewandi Notokoesoemo
Ciri yg paling umum dari ejaan Soewandi adalah :
- penggantian huruf OE menjadi U,
- bunyi sentak ditulis dengan K
- kata ulang boleh ditulis dengan angka 2
- tidak dibedakan antara penulisan di sebagai awalan dan di sebagai kata depan.
Ejaan ini diperkenalkan oleh panitia gabungan Indonesia dan Malaysia yg diketuai oleh Prof. Dr. Anton Moedardo Moeliono. Guru Besar Fakultas Sastra Univeristas Indonesia. (Anton Moeliono)
- Huruf TJ diganti dengan C (contoh: ‘tjepat’ menjadi ‘cepat’)
- Huruf J diganti dengan Y (contoh: ‘jang’ menjadi ‘yang’)
- Huruf NJ diganti dengan NY (contoh: ‘kelihatannja’ menjadi ‘kelihatannya’)
- Huruf SJ diganti menjadi SY (contoh: ‘Sjahrir’ menjadi ‘Syahrir’)
- Huruf CH diganti menjadi KH (contoh: ‘chusus’ menjadi ‘khusus’)
- Huruf asing seperti Z, Y dan F disahkan menjadi ejaan bahasa Indonesia. Hal ini disebabkan pemakaian yg sangat produktif.
- Huruf E tidak dibedakan pepet atau bukan, alasannya tidak banyak kata yg berpasangan dengan variasi huruf E yg menimbulkan salah pengertian.
Dan perubahan ketiga terjadi pada tanggal 17 Agustus 1972 disahkan lagi perubahan untuk Ejaan yg baru yg dinamakan Ejaan Yang Disempurnakan atau biasa disingkat EYD (Ejaan Yang Disempurnakan).
Ciri umumnya dibanding ejaan sebelumnya adalah
- Huruf F, V, dan Z yang merupakan unsur serapan dari bahasa asing diresmikan pemakaiannya.
- Huruf Q dan X yg lazim digunakan dalam bidang ilmu pengetahuan tetap digunakan, misalnya pada kata furqan, dan xenon.
- Awalan “di-” dan kata depan “di” dibedakan penulisannya. Kata depan “di” pada contoh di rumah, di sawah, penulisannya dipisahkan dengan spasi, sementara “di-” pada dibeli atau dimakan ditulis serangkai dengan kata yg mengikutinya.
- Kata ulang ditulis penuh dengan mengulang unsur-unsurnya. Angka dua tidak digunakan sebagai penanda perulangan.
Ejaan ini dirumuskan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan waktu itu Mashuri Saleh (Mashuri Saleh).
Jadi bisa dibilang Ejaan dalam Bahasa Indonesia tidak serta merta berubah dalam sekejap. Mereka inilah yg merumuskan perubahan Ejaan seperti yg umum kita pakai saat ini.
