Ini Dia ekosistem “Dunia Hilang” (“Lost World”) yang Ada di Dunia Nyata!
Di timur laut Amerika Selatan, terdapat formasi geologi yang luas, dikenal dengan nama Perisai Guiana; sebuah bentangan bebatuan berusia 1.7 milyar tahun. Dahulu kala, kawasan itu merupakan dataran tinggi dari batu sedimen, tetapi sebagian besar sekarang sudah terkikis.
Peninggalan dari dataran tinggi kuno ini adalah blok batu pasir yang sangat besar, bagian atasnya rata. Penduduk lokal Pemon menyebutnya dengan sebutan tepuis, yang berarti “perumahan para dewa”, dan disana ada ratusan.
Kebanyakan tepuis bertebaran di seluruh Venezuela, tapi mereka sampai menembus negara tetangga Guyana dan Brazil juga. Selain pegunungan Andes, pegunungan berbentuk meja ini termasuk dalam bentang alam tertinggi di Amerika Selatan.
Ada Gunung Roraima, inspirasi buku The Lost World karangan Arthur Conan Doyle:
Auyán-tepui, rumahnya air terjun tertinggi di dunia:
Cerro Autana, gunung yang ditembus oleh gua, dengan bukaan di kedua sisinya:
Sarisariñama, yang bagian permukaannya dihiasi beberapa dolin (sinkhole) besar:
Dan banyak lagi. Menjulang tinggi diantara perhutanan dan sabana, dikelilingi tebing terjal di segala sisi, tepuis layaknya pulau yang terisolasi dan tak terjangkau di tengah laut; mereka secara efektif jadi pulau di angkasa. Dan, seperti halnya pulau di tengah laut, mereka memiliki himpunan margasatwa unik yang berevolusi dalam ruang vakum, terlepas dari “daratan utama”.
Sebelum saya memperkenalkan kamu ke flora dan fauna yang mendiami pegunungan ini, saya akan mengajak kamu ke beberapa karakteristik yang paling menarik yang membuat ini menjadi lingkungan yang unik. Kebanyakan tepuis dikelilingi permukaan tebing vertikal di segala sisi.
Di puncak, medannya beragam, tapi kamu akan sering menjumpai formasi bebatuan dunia lain yang dikenal dengan hutan batu. Disini, beberapa elemen dari batuan terkikis dan batuan itu menjadi kompleks pilar berulir.
Terkadang, bagian depresi yang tercungkil terisi air, yang kemudian dikolonisasi oleh algae berwarna-warni.
Erosi telah menciptakan berbagai fitur spektakuler di tepuis. Tidak terhitung banyaknya gua dibawah permukaan “meja”, mayoritas belum dieksplorasi. Mereka terbuat dari kuarsit, mineral yang amat sangat keras, pasti dibutuhkan ratusan juta tahun untuk bisa terbentuk menjadi gua, dan mungkin saja itu adalah kumpulan gua tertua di Bumi.
Beberapa ruang di dalam gua itu sangatlah besar (coba bandingkan dengan tinggi manusia di bawah), dan satu – Abismo Guy Collet – adalah gua terdalam di seluruh Amerika Selatan, dengan kedalaman 671 meter. Ia juga gua kuarsit terdalam di dunia.
Didalam gua-gua besar, ada benyak danau dan sungai bawah tanah, formasi batu aneh, pertumbuhan mikroba kuno, dan makhluk hidup seperti ikan buta, kalajengking, laba-laba dan jangkrik gua raksasa.
Ketika batu diatas gua besar ini runtuh, terbentuklah dolin. Ada banyak dolin yang terlihat seperti bopeng pada tepuis Venezuela, beberapa diantaranya berukuran lebih dari 300 meter, baik diameter maupun kedalamannya.
Cerro Sarisariñama, tepuis spesifik satu ini, terkenal karena lubang-lubang dolinnya, yang juga sangat terisolasi sendiri sehingga mungkin saja ada spesies endemik di masing-masing dolin.
Dan tentu saja ada air terjun. Ketika sungai tumpah dari ujung mesa, mereka menjadi air terjun yang spektakuler di Bumi. Yang paling terkenal adalah Air Terjun Angel, air terjun tertinggi di dunia, terjun dari ketinggian hampir satu kilometer ke dataran rendah dibawahnya.
Contoh penting lain termasuk Air Terjun Kukenán, yang tidak sampai setinggi temannya, tapi masih luar biasa setinggi 610 meter:
Dan Air Terjun Kaieteur, air terjun setetes tunggal terbesar di dunia dalam hal volume total:
Sekarang, mari kita lihat margasatwa yang ditemukan di kepulauan angkasa ini. Di dalam trotoar batu kapur dan hutan batu, tidak banyak lahan untuk tanaman tumbuh, tapi ada spesies yang dapat bertahan hidup di celah-celah.
Sebagian spesies tanaman disini hanya dapat ditemui di satu tepui, dan sekitar sepertiga dari total flora endemik Perisai Guiana. Bromeliad, relasi dekat dengan nanas, sangatlah umum.
Pepohonan kecil yang bisa tumbuh di bebatuan, seperti Bonnetia roraimae, memang cukup “alien”.
Warna kemerahan dari dedaunannya disebabkan pigmen antosianin, yang membantu melindungi mereka dari cuaca ekstrim. Warna merah-coklat dari vegetasi beberapa tepuis bahkan bisa terlihat dari ruang angkasa:
Hal lain tentang daerah berbatu ini adalah tanahnya tipis dan rendah nutrisi. Akibatnya, beberapa tanaman menggunakan sumber nutrisi alternatif – hewan. Flora karnivora disini sangat umum, termasuk tanaman kantong semar yang menenggelamkan serangga di dalam nektar untuk kemudian dicerna.
Dan sundew atau Drosera. Daun mereka diselimuti rambut berlapis lendir, dan ketika lalat terperangkap di sekresinya, daunnya menggulung, membatasi mangsanya dan mencernanya perlahan.
Akan tetapi, kondisi di bagian atas tepuis tidak selalu tak kenal ampun. Beberapa puncak berhiaskan semak belukar, sabana, dan hutan hujan tropis yang lebat.
Lalu ada hewan-hewan penghuninya. Sama seperti para tumbuhan, fauna tepui menunjukkan endemisme tingkat tinggi, yang artinya banyak spesies yang tidak dapat ditemui di tempat lain. Ruang terbatas dan kelangkaan makanan berarti tidak banyak hewan berukuran sangat besar di atas dataran tinggi, tapi masih banyak satwa yang mempesona.
Meskipun spesies kolonis dari dataran rendah mungkin ada yang terkadang datang berkunjung, mayoritas satwa di tepuis kemungkinan merupakan turunan dari hewan yang ada disana sebelum dataran yang mengelilinginya terkikis habis. Ekosistem mereka dilindungi oleh tebing terjal, sehingga hewan-hewan itu berevolusi dalam isolasi dari dunia lain.
Mari kita mulai dengan burung endemik. Yang termasuk tinamou tepui, seekor burung yang tinggal di darat dan sukar dipahami:
Nightjar Roraiman, yang termasuk hewan nokturnal:
Berbagai macam burung kolibri, termasuk diantaranya goldenthroat tepui dan merak (lihat gambar):
Tepui parrotlet, yang bolak-balik diantara puncak gunung dalam kerumunan beberapa ratus ekor:
Burung flowerpiecer besar, sering ditemukan di bebatuan karst yang tandus, dimana dia biasanya melubangi pangkal bunga untuk mengakses nektar:
Burung brushfinch tepui yang warna-warni:
Dan banyak jenis burung dalam kelompok Tyranni, seperti Roraiman antwren:
Dan burung manakin bertanduk merah mencolok, yang memiliki sepasang jambul berbulu di kepalanya (“tanduk”nya):
Di daerah kaki bukit mesa kaya akan hewan mamalia, lain halnya dengan kondisi menantang di bagian puncak (dan akses yang sulit dijangkau) berarti tidak banyak mamalia disini. Kalau adapun biasanya berukuran kecil.
Beberapa contoh endemik misalnya tupai-tikus Tyler, yang kurasa belum pernah difoto (saudara dekatnya punya foto dibawah ini):
Tikus panjat McConnell (lagi-lagi, spesies yang mendekati ada dibawah ini):
Kelelawar hantu Isabelle (yak lagi-lagi bukan spesies yang sama persis di foto):
Dan tikus Roraima yang berduri, yang sempat dikira punah sampai akhirnya ditemukan kembali tahun 2009. Fotonya kali ini sungguhan:
Hal yang sangat menarik tentang tikus ini adalah keluarga terdekatnya secara genetik tidak ditemukan di dataran rendang di sekitar tepuis, tapi jauh diatas Perisai Brasil di sisi lain Lembah Amazon. Ini karena leluhurnya menghuni dataran tinggi luas Amerika Selatan yang sekarang sebagaian besar telah terkikis. Di bagian Perisai Guianan dan Brasil yang tersisa, garis keturunan tikus ini berhasil bertahan hidup.
Hanya ada dua hewan “besar” yang diketahui secara pasti tinggal di bagian puncak tepuis: coati berhidung coklat dan tamandua selatan, spesies trenggiling. Kita punya bukti foto untuk kedua spesies ini:
Namun, selain kedua hewan diatas, ada yang melaporkan keberadaan trenggiling raksasa, kukang leher-pucat dan bahkan jaguar dari puncak. Tak ada satupun hewan yang disebutkan tadi yang telah diamati keberadaannya di zaman modern, dan klaim terakhir itu sangat meragukan.
Sekarang untuk kaum herpetofauna; reptil dan amfibi. Banyak sekali spesies endemik, termasuk keanekaragaman katak yang luar biasa, 90% nya endemik, tapi tidak banyak yang terlihat menonjol.
Saya akan menyebut beberapa, seperti kadal Pantepuisaurus rodriguesi. Itu tidak hanya spesies endemik tapi juga merupakan genus unik tersendiri, hanya ditemukan di tepuis.
Keluarga dekatnya, Riolama inopinata, juga endemik, dan memiliki corak merah mencolok.
Ada juga Neblina anole, kadal yang cukup besar, dia bisa mengembungkan lipatan kulit berwarna cerah di tenggorokannya:
Kodok semak Roraima, seekor makhluk yang —ketika terancam— akan meringkuk dan berguling:
Dan katak pohon tepui, yang menggendong bayinya di punggung mereka.
Komponen terakhir margasatwa tepui yang tersisa untuk dibahas adalah fauna invertebrata. Terdapat kumbang, siput, kupu-kupu, dan bahkan serangga air dan krustasea di sungai bawah tanah yang tak terhitung jumlahnya.
Satu-satunya spesies athropod endemik yang saya rasa sangat penting adalah berbagai macam kepiting air tawar yang baru saja ditemukan di hutan pegunungan.
Jadi, itulah semua hal basis yang perlu kamu ketahui tentang laboratorium evolusi yang luar biasa ini. Tidak diragukan lagi masih banyak yang tersisa untuk ditemukan disini; banya tepuis yang telah lama hampir-tidak bisa diakses bahkan dengan helikopter, tapi mereka mulai mengungkapkan rahasianya.
