Sikap Perfeksionis : Manfaat Serta Kekurangannya Untuk Kesehatan Mental
Apa itu perfeksionisme?
Seperti yang kita tahu bahwa di dunia ini tidak ada manusia yang sempurna. Akan tetapi, hal itu bukan berarti bahwa kamu tidak boleh berusaha untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Walaupun begitu, terdapat beberapa perbedaan yang cukup besar antara menjadi orang terbaik di bidangnya dan seseorang yang punya sikap perfeksionis.
Menjadi orang yang terbaik di dalam suatu bidang berarti kita harus mengerahkan segala kemampuan terbaik yang ada di dalam diri untuk menyelesaikan berbagai macam pekerjaan. Siapa saja yang bekerja keras dapat mencapai target prestasi itu. Sehingga kamu akan termotivasi untuk terus berusaha menjadi orang yang lebih baik dari sebelumnya.
Biasanya, sikap perfeksionis didorong oleh ketakutan terhadap kegagalan untuk menyenangkan orang lain. Selain itu, orang yang memiliki sikap perfeksionis mempunyai perasaan takut ditolak dan dikritik orang lain. Maka tak heran jika keinginan untuk menjadi seseorang yang sempurna tanpa adanya kesalahan bisa membuat mereka merasa lebih mudah stres dan cemas ketika kesempurnaan tersebut gagal tercapai.
Hingga pada akhirnya, kecemasan tersebut hadir dalam bentuk perasaan yang tidak pernah puas ataupun bangga. Sebab, seorang perfeksionis tidak meyakini bahwa mereka telah melakukan berbagai hal dengan baik, walaupun tidak sempurna. Oleh sebab itu, orang-orang perfeksionis akan melakukan berbagai macam hal untuk memastikan bahwa semuanya akan berjalan sesuai dengan rencana dan kriteria mereka. Apabila yang mereka lakukan tidak memenuhi kriteria yang telah ditentukan, maka mereka harus mengulangi hal itu sampai benar-benar sempurna.
Bahkan, orang-orang perfeksionis tidak segan untuk mengkritik atau menuntut orang lain supaya bisa bekerja lebih baik lagi. Mereka akan sangat fokus pada detail-detail yang remeh. Sehingga cenderung melupakan tujuan dari apa yang sebenarnya mereka lakukan.
Apa yang menyebabkan seseorang menjadi perfeksionis?
Umumnya, perfeksionisme akan terbentuk karena ketika masih kecil, orang-orang sekitar menghargai dan menilai kita berdasarkan pencapaian dan apa yang sudah kita punya. Tapi tidak hanya itu saja, ada berbagai faktor lainnya yang bisa menyebabkan seseorang menjadi perfeksionis, antara lain:
a. Rasa takut yang berlebihan terhadap penilaian orang lain.
b. Memiliki gangguan mental seperti OCD (obsessive compulsive disorder) dan gangguan kecemasan lain.
c. Orang tua yang selalu perfeksionis kerap tidak menghargai usaha yang telah dilakukan oleh sang anak ketika tidak memberikan hasil yang terbaik.
d. Sikap ketergantungan yang sudah terbentuk sejak masih kecil.
Apabila kamu mempunyai pencapaian yang cukup besar, mungkin kamu akan merasa kewalahan atau bahkan tertekan karena merasa harus bisa mempunyai pencapaian yang lebih besar dibandingkan sebelumnya. Hal tersebut juga dapat membentuk perfeksionisme di dalam dirimu. Oleh karena itu, apabila kamu merasa mempunyai karakteristik yang menjurus ke perfeksionisme sampai menyebabkan stres, maka cobalah untuk merubah pola pikirmu.
Tak ada salahnya juga untuk meminta bantuan kepada para ahli yang sudah profesional dalam menangani masalah tersebut. Hal ini bertujuan agar kamu bisa mempunyai perilaku dan juga pola pikir yang lebih positif dalam menetapkan standar dan target supaya tidak membebani diri sendiri.
Berbagai ciri-ciri seorang perfeksionis
Ada berbagai macam ciri-ciri yang dimiliki oleh orang perfeksionis yang mana perlu kamu waspadai. Di bawah ini adalah beberapa tanda yang menunjukkan bahwa kamu adalah orang perfeksionis, antara lain:
1. Berusaha untuk sempurna di segala hal
Sebenarnya, berusaha untuk melakukan yang terbaik merupakan sikap yang positif, terlebih dalam hal bekerja dan juga berkarir. Misalnya saja, seorang juru masak pasti ingin menyajikan makanan yang enak dan disukai oleh para pengunjung restoran tempat mereka bekerja. Akan tetapi, apabila ada pengunjung yang hanya memberikan penilaian 9 dari 10 dan hal itu membuatnya merasa gagal, sedih, dan tertekan, maka bisa jadi juru masak tersebut merupakan seorang perfeksionis.
2. Merasa harus menjadi yang terbaik
Sesungguhnya, menjadi versi terbaik untuk diri kamu sendiri adalah hal yang sangat baik. Akan tetapi bila kamu merasa harus selalu menjadi yang terbaik diantara orang-orang sekitarmu, maka bisa jadi itu adalah salah satu ciri bahwa kamu seorang perfeksionis. Untuk orang-orang perfeksionis, menjadi nomor dua tidak cukup membuktikan bahwa dia telah memiliki kualitas diri yang baik. Padahal pada kenyataannya, tanda bahwa seseorang sudah sukses tidak selalu harus menjadi orang nomor satu.
3. Butuh pengakuan
Orang-orang perfeksionis tidak hanya merasa sempurna, tapi mereka juga butuh pengakuan dari orang lain bahwa mereka memang orang yang sempurna. Apabila kamu lebih fokus dengan penilaian orang lain pada usaha yang kamu lakukan dibandingkan dengan usaha itu sendiri, maka besar kemungkinan bahwa perfeksionis yang ada di dalam diri kamu sudah memberikan pengaruh buruk.
4. Sulit menerima saran dan kritik
Kata-kata atau omongan yang tidak mengenakkan tentang diri kita mungkin saja tidak mudah untuk kita terima. Akan tetapi, orang-orang yang hanya sekedar memberikan ujaran jahat tidak sama dengan orang-orang yang memang ingin memberikan saran atau kritik yang membangun untuk membantu kamu menjadi pribadi yang lebih baik lagi.
Umumnya, seseorang perfeksionis mengalami kesulitan dalam membedakan komentar jahat dan kritik yang membangun. Sehingga keduanya sama-sama tidak dapat diterima dengan baik. Apabila kamu merasa begitu, mungkin saja perfeksionisme yang ada di dalam diri sudah memberikan pengaruh yang buruk terhadap bagaimana kamu bersikap dan menanggapi komentar orang lain.
5. Seringkali terlalu kritis terhadap orang lain
Walaupun tidak suka menerima kritik, seorang perfeksionis justru paling suka mengomentari dan juga menghakimi orang lain dengan cara yang berlebihan. Hal tersebut dapat didasari oleh keinginan mereka untuk menjadi yang terbaik. Untuk mewujudkan hal tersebut, mereka akan berupaya menjatuhkan citra orang lain demi mengangkat citra diri sendiri.
6. Suka menunda pekerjaan
Tahukah kamu bahwa jika sering menunda untuk melakukan berbagai macam hal, khususnya pekerjaan, itu bisa menjadi salah satu ciri dari sikap perfeksionis. Hal tersebut mungkin saja terjadi karena seorang perfeksionis sangat takut dengan kegagalan. Oleh karena itu, alih-alih mengerjakan, mereka akan lebih senang untuk menghindarinya dengan cara menunda pekerjaan itu.
Akan tetapi, pikiran tersebut tentu akan mempersulit diri sendiri. Selain itu, semakin banyak pekerjaan yang ditunda, maka akan semakin banyak juga pekerjaan yang menumpuk dan harus diselesaikan dalam satu waktu. Hal itu dapat menyebabkan kamu menjadi stres apabila tidak segera diselesaikan.
7. Selalu merasa bersalah
Perfeksionis yang ada di dalam diri sendiri akan menimbulkan pikiran bahwa kesalahan kecil yang kamu lakukan merupakan sebuah bentuk dari kegagalan dalam mengerjakan suatu pekerjaan dengan baik, padahal pada kenyataannya, melakukan sebuah kesalahan merupakan fitrah sebagai manusia. Oleh karena itu, kamu akan kerap merasa gagal karena tidak dapat mengerjakan semua hal dengan sempurna. Hal itu bisa menimbulkan perasaan bersalah kepada diri sendiri dan juga orang lain yang terus bermunculan. Apabila diabaikan, kamu tidak akan pernah bisa menikmati hidup.
Apa saja sih manfaat dan kekurangannya?
Di bawah ini adalah beberapa manfaat dan juga kekurangan dari sikap perfeksionis.
1. Memiliki standar dan kualitas yang tinggi, tapi tidak pernah merasa puas
Seseorang yang memiliki sikap perfeksionis biasanya mempunyai standar dan juga kualitas yang cukup tinggi dalam semua hal. Mereka tidak akan pernah merasa puas dengan hanya melakukan suatu hal yang biasa saja atau belum memenuhi standar dalam versi mereka. Oleh sebab itu, mereka akan melakukan berbagai macam pekerjaan sebanyak mungkin sesuai dengan apa yang mereka perlukan. Hal itu dilakukan dengan tujuan untuk menghasilkan sesuatu yang luar biasa.
2. Sangat teliti, namun memerlukan waktu yang lama untuk sebuah pekerjaan
Seperti yang kita tahu bahwa orang-orang perfeksionis akan mengharapkan segala sesuatu yang sempurna. Maka dari itu, mereka akan sangat teliti dalam melakukan berbagai macam pekerjaan dan tidak akan mengabaikan sesuatu hal meski kecil. Akan tetapi, karena sikap telitinya tersebut, mereka akan membutuhkan waktu yang cukup lama untuk menyelesaikan pekerjaannya. Dapat dikatakan, orang perfeksionis memiliki tingkat produktivitas yang rendah.
3. Selalu ingin memberikan citra dan image yang baik, tapi mengerjakan suatu hal yang tidak perlu
Seorang perfeksionis tidak ingin tampak jelek di mata orang lain. Oleh sebab itu, mereka akan melakukan berbagai cara dan juga upaya untuk memberikan image yang baik untuk dirinya sendiri dan karya yang mereka buat. Akan tetapi, karena upayanya tersebut untuk memberikan image yang baik, mereka justru cenderung mengerjakan sesuatu hal yang tidak dibutuhkan. Misalnya saja, seorang desainer yang perfeksionis akan lebih fokus ke pembuatan sebuah desain atau pola yang terlalu detail. Dimana klien mereka justru tidak menyadarinya dan bahkan tidak membutuhkan hal tersebut.
4. Ingin semua hal berjalan dengan lancar, tapi mudah stres dan frustasi
Seorang perfeksionis akan mengerjakan pekerjaan mereka dengan lebih keras dan membutuhkan waktu yang lama dibandingkan dengan orang-orang pada umumnya. Hal itu mereka lakukan dengan tujuan untuk mendapatkan hasil yang sempurna. Dengan begitu, biasanya orang-orang perfeksionis akan lebih mudah stres dan frustasi saat hasil yang mereka dapatkan tidak sesuai dengan keinginannya.
5. Menjadi seseorang yang kritis, tapi cenderung membuang waktu
Seorang perfeksionis akan memikirkan segala sesuatu dari hulu ke hilir. Mereka merupakan seseorang yang kritis dan akan memikirkan semua hal secara matang. Sebab, mereka membenci hal-hal yang tidak berjalan sesuai dengan rencana. Mungkin menjadi seorang pemikir yang kritis memang diperlukan, tapi untuk beberapa kondisi dan kebutuhan yang cenderung mendesak, perfeksionis justru hanya akan membuang-buang waktu.
