Pengertian Tier Data Center dan Tingkatannya
Bagi sahabat pengguna hosting, pasti tidak asing dengan istilah tier data center dalam spesifikasi hosting. Tetapi sudah tahukah apa pengertian tier data center? Saat membeli layanan hosting biasanya disebutkan data center dengan Tier 1, Tier 2, Tier 3 dan Tier 4, lalu mana yang terbaik? Jika Anda tahu pemilihan tier dalam server ini sangat penting, karena ada kaitannya dengan keamanan data website yang Anda simpan pada server hosting.
Apa Itu Tier Data Center
Tier adalah tingkatan teknologi dan keamanan dari data center, semakin tinggi angka tiernya maka semakin bagus data center. Ibaratnya tier ini seperti hotel, semakin bagus dan lengkap fasilitas yang dimiliki maka semakin bagus pula bintangnya. Tentunya semakin tinggi tingkatan tier maka harganya tentu lebih mahal.
Klasifikasi tier ini mulai muncul pada tahun 1990an dari terminologi industri data center dalam standar global untuk validasi bagi pihak ketiga yang menyelenggarakan infrastruktur data center. Tier ini menjadi patokan untuk membandingkan kualitas kinerja dari infrastruktur data center dengan data center lain. Uptime institute adalah pendiri sekaligus pencetus dan menjadi rujukan untuk sertifikasi data center.
Tingkatan Tier Data Center
Tingkatan tier data center terbagi menjadi empat tingkatan meliputi maintenance, power, cooling dan fault capabilities. Setiap tingkat bersifat progresif, artinya tingkat yang lebih tinggi memiliki fitur yang dimiliki tingkat di bawahnya.
Berikut penjelasan mengenai 4 tier data center:
1. Tier 1 – Basic Capacity
Tier 1 merupakan standar data center dengan jalur distribusi non-redundant. Artinya data center tier satu hanya dilayani oleh 1 jalur distribusi dan 1 uplink per-server. Data center tier 1 kebanyakan dimiliki oleh perusahaan yang memiliki data center sendiri. Tingkat uptime dalam setahun dibatasi 99,671% atau sekitar 28,8 jam dalam satu tahun.
Persyaratan untuk data center tier 1 meliputi:
- Genset untuk antisipasi pemadaman listrik
- Perangkat UPS
- Peralatan pendinginan khusus seperti raised floor
Ketersediaan genset, UPS dan raised floor ini sifatnya opsional, tetapi lebih baiknya memang ada untuk backup.
2. Tier 2 – Redundant Capacity
Tier 2 data center pada dasarnya mirip dengan tier 1, yang membedakan semuanya sudah memiliki redundant (sumber daya cadangan). Data center tier dua harus memiliki UPS, generator cadangan dan raised floor untuk pendinginan. Tingkat uptime server tier 2 dibatasi 99,741% atau sekitar 22 jam dalam satu tahun.
Beberapa persyaratan untuk tier 2 meliputi:
- Generator listrik
- Pendinginan dengan raised floor
- UPS
- Penyimpanan energi
- Peralatan penolak panas,
- Tangki bahan bakar
- Sel bahan bakar
- Pompa
Jika terjadi gangguan, tier 2 harus dilakukan shutdown sampai proses selesai.
3. Tier 3 – Concurrently Maintainable
Tier 3 memiliki persyaratan seluruh data center harus memiliki lebih dari satu sumber listrik dan jaringan sehingga tidak ada shutdown. Tingkat uptime server juga dibatasi maksimal 99,982% atau sekitar 1,5 jam dalam satu tahun. Untuk urusan uptime server antara tier 2 dan tiga terpaut perbedaan yang cukup jauh. Untuk tier 3 keatas, saat terjadi maintenance atau penggantian komponen tidak perlu dilakukan shutdown.
4. Tier 4 – Fault Tolerant
Tier 4 data center merupakan level tier tertinggi dengan uptime server minimal 30 menit dalam satu tahun atau uptime server 99,995%. Secara persyaratan tidak berbeda jauh dari tier 3, tetapi dari segi pendinginan, UPS dan generator cadangan memiliki jalur khusus untuk mengeluarkan udara panas. Tingkat keamanannya lebih tinggi karena dipantau 24 jam sehingga aman dari gangguan teknis dan non-teknis. Jika kita berbicara masalah biaya, untuk membangun data center dengan tier 4 memiliki biaya yang paling besar dan membutuhkan waktu yang lebih lama.
