Apa Itu Psikologi Klinis dan Apa Perbedaannya dengan Psikiater?
Apa itu Psikologi Klinis?
Psikologi Klinis merupakan bidang ilmu psikologi yang bertujuan memahami, mengurangi dan mencegah ketidakmampuan, gangguan dan ketidaknyamanan yang menimbulkan masalah psikologis dalam penyesuaian dan perkembangan pribadi manusia.
Siapa yang dapat disebut Psikolog Klinis?
Psikolog Klinis adalah setiap orang yang telah lulus pendidikan psikologi klinis sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan dan berhak memberikan pelayanan psikologi klinis kepada masyarakat. Kualifikasi pendidikan Psikolog Klinis paling rendah adalah lulusan pendidikan program profesi psikologi klinis yaitu Sarjana (S1) Psikologi yang telah mengikuti pendidikan profesi psikologi dan telah dikukuhkan sebagai Psikolog Klinis oleh organisasi profesi, atau Magister (S2) Profesi Psikologi di Bidang Psikologi Klinis.
Apa yang dimaksud Pelayanan Psikologi Klinis?
Pelayanan Psikologi Klinis adalah segala aktivitas pemberian jasa dan praktik psikologi klinis untuk menolong individu dan/atau kelompok yang dimaksudkan untuk pemeriksaan dan intervensi psikologis untuk upaya promotif, preventif, kuratif, rehabilitatif maupun paliatif pada masalah psikologi klinis.
Masalah apa saja yang dapat ditangani oleh Psikolog Klinis?
Beberapa masalah yang dapat ditangani oleh Psikolog Klinis yaitu kecemasan berlebihan, depresi, trauma psikologis, pikiran/perilaku yang menyakiti diri sendiri atau orang lain, perilaku kecanduan, masalah citra tubuh, gangguan makan, gangguan tidur, autis, ADHD, kesulitan belajar, masalah perilaku lainnya yang menganggu pengembangan diri.
Apa saja wewenang Psikolog Klinis?
Menurut Permenkes No. 45 Tahun 2017, wewenang Psikolog Klinis adalah :
- pelaksanaan asesmen psikologi klinis;
- penegakan diagnosis dan prognosis psikologi klinis;
- penentuan dan pelaksanaan intervensi psikologi klinis;
- melakukan rujukan; dan
- pelaksanaan evaluasi proses asesmen dan intervensi psikologi klinis.
Penentuan dan pelaksanaan intervensi psikologi klinis dapat dilaksanakan kepada individu, kelompok, komunitas maupun untuk kepentingan hukum sesuai dengan kebutuhan dan permasalahan psikologis yang terjadi, dalam bentuk psikoedukasi, konseling, psikoterapi, dan rekomendasi intervensi.
Di mana Psikolog Klinis dapat berpraktik?
Psikolog klinis dapat menjalankan praktik keprofesiannya secara mandiri dan/atau bekerja di Fasilitas Pelayanan Kesehatan seperti praktik perseorangan Psikolog Klinis, klinik, puskesmas, dan/atau rumah sakit. Selain itu Psikolog klinis dapat menjalankan praktik di instansi pemerintah maupun lembaga swasta yang bergerak di bidang sosial.
Bagaimana legalitas praktik Psikolog Klinis?
Psikolog Klinis di Indonesia dinyatakan sebagai tenaga kesehatan Republik Indonesia dalam UU RI No. 36 Tahun 2014, izin dan penyelenggaraan praktik Psikolog Klinis diatur dalam Permenkes RI No. 45 Tahun 2017.
Setiap Psikolog Klinis harus memiliki STRPK (Surat Tanda Registrasi Psikolog Klinis) dan SIPPK (Surat Izin Praktik Psikolog Klinis) yang diberikan oleh Pemerintah dalam melakukan praktik keprofesiannya.
Pemerintah dan organisasi profesi dapat melakukan pembinaan dan pengawasan untuk meningkatkan mutu pelayanan psikologi klinis, keselamatan pasien dan melindungi masyarakat dari segala kemungkinan yang dapat menimbulkan bahaya bagi kesehatan.
Perbedaan Psikiater dan Psikolog Itu
Secara sederhana, psikiater adalah dokter, sedangkan psikolog klinis bukan dokter. Psikiater memiliki gelar dr. SpKJ (dokter spesialis kedokteran jiwa), yaitu mereka yang setelah mencapai gelar dokter melanjutkan studi spesialis, yakni kedokteran jiwa atau yang kerap disebut psikaitri (ilmu yang berfokus pada kesehatan jiwa). Sementara psikolog klinis adalah sarjana psikologi yang kemudian mengambil kuliah profesi (Magister Psikologi Klinis) dan mendapat gelar psikolog klinis. Dengan kata lain, psikiater dapat memberikan resep obat, sementara psikolog klinis tidak demikian. Ilmu psikologi sendiri merupakan ilmu yang mempelajari perilaku manusiadengan tujuan untuk memahami sifat-sifat manusia.
Lalu, pertanyaan selanjutnya, perilaku-perilaku macam apa yang menjadi perhatian dari psikiter dan psikolog klinis? Manusia sebagai makhluk yang berakal tentu tidak lepas dari tiga hal, yaitu pikiran, perasaan, dan juga tingkah laku. Seorang psikolog klinis akan berupaya untuk memahami bagaimana manusia berpikir, bagaimana perasaannya dan bagaimana pula mereka menunjukkan perilaku ketika menghadapi situasi tertentu. Sebagai contoh, ada seseorang yang mengeluhkan kesulitan dalam mengelola marah. Melalui proses konseling, psikolog klinis akan memberikan semacam edukasi mengenai emosi, pengaruhnya terhadap perilaku manusia, termasuk memfasilitasi klien untuk belajar mengenali situasi pemicu dan mengelola marah secara lebih adaptif. Jika kemudian ditemukan indikasi perilaku yang cenderung membahayakan diri maupun lingkungan, psikolog klinis akan merujuk ke psikiater agar klien mendapatkan penanganan secara medis.
Hal-hal Keliru Tentang Psikiater dan Psikolog
Rumah Sakit Jiwa (RSJ) adalah tempat dimana psikiater dan psikolog klinis biasa bekerja. Kesadaran dan kemauan untuk mengakses layanan di RSJ nampaknya masih menjadi sebuah kendala bagi sebagian masyarakat dikarenakan adanya stigma mengenai gangguan jiwa, mulai dari adanya anggapan tentang aib, gila, dan sebagainya. Padahal, sejatinya, melakukan pemeriksaan ke RSJ adalah sebuah kebutuhan untuk membuat kondisi lebih baik saat dirasakan sedang tidak nyaman. Selain masalah stigma, profesi psikolog kerap dianggap sebagai peramal dan pembaca pikiran. Misalnya saja “wah, hati-hati nih ngomongnya, soalnya ada psikolog, nanti jangan-jangan pikrianku dibaca”. Padahal sejatinya, psikolog bukanlah sosok peramal yang bisa memprediksi seseorang dan psikolog juga bukan profesi yang mampu menganalisa sesuatu tanpa didasari dengan proses pemeriksaan mendalam sebelumnya.Psikolog “bekerja” menganalisa suatu kondisi berdasarkan sebab akibat dari perilaku yang diperlihatkan dan disampaikan oleh klien.
Kapan ke Psikiater dan Kapan ke Psikolog?
Saat merasa tidak nyaman dengan diri sendiri, kadang kita belum memahami siapa yang harus kita akses, apakah psikiater atau psikolog klinis. Berikut beberapa panduan untuk kita lebih memahami dan menyesuaikan dengan kebutuhan kita. Seorang psikolog klinis akan menjadi sosok pendengar atas apa yang kita pikirkan, rasakan, dan alami. Kita akan dibantu oleh psikolog klinis untuk merefleksikan dan menyadari kondisi sebenarnya yang kita alami, karena tidak jarang saat dihadapkan pada suatu persoalan, pikiran kita hanya terfokus pada persepsi pribadi dan emosi negatif yang justru membuat semakin tidak nyaman. Psikolog klinis pun juga memungkinkan kita untuk menjadi teman diskusi saat kita membutuhkan bantuan untuk mengenali potensi dalam rangka untuk mengembangkan diri. Lalu, bagaimana dengan psikiater? Prinsipnya, ketika kita merasakan kondisi yang tidak nyaman dan dirasa mengganggu fungsi keseharian dan atau sudah mengarah pada perilaku beresiko (membahayakan), maka kita dapat melakukan sesi konsultasi dengan psikiater agar mendapatkan penanganan medis yang tepat. Pada prinsipnya, psikiater maupun psikolog klinis sifatnya saling melengkapi.
Mengakses dan menerima bantuan dari profesional bukan berarti kita gila atau tidak waras. Bisa jadi kita memang dalam kondisi membutuhkan mereka atau kita tengah memerlukan cermin untuk kita dapat melakukan refleksi atas keadaan diri sehingga dapat melihatnya secara objektif.
