Sering Merasa Tidak Bahagia? Bisa Jadi Itu Disforia, Ketahui Cara Mengatasinya!
mood atau suasana hati memang rentan untuk berada dalam kondisi yang sangat bawah. Apabila rasa senang yang ekstrem disebut dengan euforia, maka rasa sedih yang luar biasa disebut dengan disforia. Kenali apa saja penyebab disforia.
Apa itu disforia
Disforia merupakan kondisi saat mental tidak merasa bahagia, tidak puas, selalu gelisah, atau merasa frustasi. Disforia merupakan lawan dari euforia, sebuah kondisi saat Anda menjadi bahagia pada level ekstrem.Disforia bukanlah gangguan mental yang berdiri sendiri. Namun, kondisi memprihatinkan ini dapat menjadi tanda dan gejala suatu gangguan psikologis, termasuk depresi. Disforia juga dapat menjadi mood atau suasana hati seseorang untuk jangka waktu yang sebentar. Beberapa orang berisiko mengalami disforia dalam suatu atau beberapa kali dalam hidupnya.Jika seseorang mengalami disforia, gejala berikut ini bisa dialami:
- Kesedihan
- Khawatir
- Apatis atau tidak bergairah beraktivitas
- Kelelahan
- Rasa gelisah
- Kurangnya kepuasan dengan diri sendiri atau kehidupan
Penyebab disforia
Disforia dapat disebabkan oleh beragam faktor. Misalnya, disforia dapat dialami oleh individu yang menderita kondisi psikologis berikut ini:
- Gangguan penyesuaian, terjadi saat seseorang sulit menerima kenyataan pahit
- Gangguan bipolar
- Depresi
- Gangguan kepribadian
- Skizoafektif
- Gangguan afektif musiman
Selain gangguan mental di atas, disforia juga terjadi karena permasalahan hidup tertentu. Masalah tersebut termasuk kehilangan orang yang disayangi, stres karena pekerjaan, atau masalah keluarga. Beberapa pasien dengan kondisi medis tertentu berisiko pula mengalami disforia, termasuk individu yang mengalami malnutrisi, masalah pada tiroid, atau keracunan zat tertentu.
Kondisi psikologis lain yang berkaitan dengan disforia
Penggunaan istilah disforia digunakan dalam kondisi psikologis lain, misalnya:
1. Gender disforia
Istilah disforia sangat lekat dengan kondisi psikologis yang disebut gender disforia. Gender disforia merujuk pada stres dan frustasi yang dirasakan seseorang saat identitas gendernya tidak sesuai dengan jenis kelamin yang ia bawa sejak lahir.Beberapa orang dengan gender disforia bisa mengatasi frustasinya saat mulai menerima identitas gendernya – serta saat mulai bertransisi dengan gender yang ia identifikasi. Namun, beberapa individu bisa mengalami disforia berkelanjutan walau telah melakukan transisi.
2. Gangguan disforik pramenstruasi
Disforia juga dikaitkan dengan masalah psikologis pada wanita yang disebut gangguan disforik pramenstruasi (GDP). Gangguan disforik pramenstruasi adalah kondisi psikologis yang mirip dengan sindrom pramenstruasi atau PMS. Namun, pada kasus gangguan disforik pramenstruasi, gejala psikologis yang dialami sifatnya lebih parah.Gejala yang dialami wanita dengan gangguan disforik pramenstruasi termasuk mood yang buruk, mudah marah, sedih berlebihan, dan citra tubuh yang memburuk. Kondisi ini bisa ditangani melalui kombinasi obat-obatan dan perubahan gaya hidup.
Cara penanganan disforia
Disforia yang berlangsung lebih dari dua minggu harus mendapatkan penanganan dari ahli kejiwaan. Ahli kejiwaan seperti psikolog dan psikiater dapat membantu Anda mengidentifikasi penyebabnya dan menganalisis gejala yang dialami. Penanganan disforia sama seperti penanganan kondisi psikologis lain, termasuk terapi atau obat yang khusus diresepkan oleh psikiater. Dokter juga akan meminta Anda untuk melakukan perubahan gaya hidup yang bisa memperbaiki mood atau suasana hati.
