Mengenal Groundsman, Sosok Dibalik Bagusnya Lapangan Sepakbola Eropa
Kita mungkin jarang mendengar, tapi klub bola Eropa itu bukan hanya rebutan pemain dan pelatih, tapi juga groundsman, orang yang mengurusi lapangan dan rumputnya. Klub-klub kaya ini membajak groundsman terbaik dengan dua tujuan: mengurangi cidera dan memungkinkan tim bermain semakin cepat.
Dan jangan kaget, transfer para manajer pitch (groundsman) ini cukup panas. Para ahli (rumput) lapangan bola semuanya dari pulau Britania dan Irlandia. Lihat daftar groundsman asal Inggris yang dibajak klub, stadion, atau organisasi di Eropa daratan.
- Paul Burgess groundsman Blackpool dan Arsenal sebelum dibajak Real Madrid pada 2009.
- Dan Gonzales groundsman yang sukses di klub kecil AFC Bournemouth, dibajak Atletico Madrid.
- Tony Stones groundsman Barnsley, kemudian mengurusi Wembley, akhirnya dibajak pengelola stadion nasional Prancis, Stade de France.
- Alan Ferguson yang menang 12 kali sebagai groundsman terbaik Inggris saat mengelola lapangan Ipswich Town. Ia mendapat jabatan eksekutif bidang pitch sepak bola di FIFA.
- Jonathan Calderwood groundsman Aston Villa yang dibajak PSG pada 2013.
Mengapa Inggris sangat maju urusan lapangan bola?
Liga Primer pada awal 1990an adalah awal mulanya. Liga Primer ini membuat klub menjadi kaya. Mereka mulai membeli pemain super mahal. Dampaknya, mereka ingin melindungi aset terpenting yang mahal itu, dari cidera.
Nah, karena sebagian cidera berasal dari lapangan yang kurang bagus, maka mereka mulai serius dan mencari orang terbaik untuk mengelola pitch. Akhirnya, untuk urusan pitch, Inggris itu lebih maju sekitar 10 tahun dibanding Eropa daratan.
Selain itu, para pelatih top mulai cerewet dengan urusan lapangan, karena bisa membuat tim bermain lebih bagus. Saat tiba di Manchester City misalnya, Guardiola minta panjang rumputnya 19 mm. Di Barcelona dan Bayern Muenchen, 19 mm adalah panjang rumput favoritnya. Tujuannya? Agar permainan bisa cepat.
Tapi Manchester lebih dingin dari Barcelona atau Muenchen, rumputnya lebih lama tumbuh. Kalau dipaksa, rumput malah mati dan lapangan malah botak. Akhirnya, panjang rumputnya 23 mm. Kehebatan pitch di stadion Inggris ini, membuat iri para pengelola stadion dan klub di Eropa Daratan. Mereka mulai membajak para groundsmen. Dan para groundsmen ini kadang menggeleng kepala melihat kondisi lapangan di Eropa daratan.
Di PSG misalnya. Sebelum Jonathan Calderwood datang, PSG bahkan tidak memiliki vacuum cleaner untuk menyedot rumput mati di Park des Princes setelah pertandingan. Saat juara pada 2014, pelatih PSG Laurent Blanc menyebut bahwa kerja Calderwood ini nilainya kira-kira 16 poin. Ini karena serangan PSG menjadi jauh lebih tajam.
Jonathan Calderwood di Park des Princes.
Tidak gampang mengelola rumput lapangan bola di Inggris. Indonesia mesti bersyukur, matahari selalu datang dari arah atas. Di Inggris, kalau musim dingin, matahari sangat sedikit. Rumput bisa mati.
Groundsman Wembley, Karl Stanley misalnya. Ia memasang sistem aerasi agar lebih lembab dan oksigen lebih banyak di permukaan tanah. Ia juga memasang pipa air hangat, agar suhu di permukaan mencapai 17 Celcius. Agar di musim dingin berasa seperti musim panas, ia memasang lampu dan kipas raksasa.
Nah, Inggris itu lebih maju 10 tahun dari Eropa daratan. Kalau dibanding Indonesia, kira-kira maju berapa puluh tahun ya?
PS: dulu, sekitar 1990, PSIS Semarang itu malah sengaja main di stadion yang lapangannya becek, Stadion Citarum. Mereka ini, entah kenapa, jadi jagoan kalau main di lapangan yang buruk. Julukan PSIS jaman itu adalah “Jago Becek”.
