Ini Dia Pahlawan Nasional Indonesia yang Potret Lukisan dirinya Ternyata Hoaks!
Sebagian potret pahlawan nasional yang kita kenal sekarang adalah hoax terutama bagi mereka yang hidup di jaman kamera belum sampai di indonesia. Atau minimal selalu digambarkan dengan “editing” yang berlebihan sehingga sangat jauh dari sosok aslinya.
Coba perhatikanlah gambar-gambar pahlawan nasional di bawah ini.
Mereka selalu digambarkan sebagai tokoh yang gagah, berani dan berwibawa. Tapi mungkin aslinya bertubuh kecil, ceking, kurus nggak ada “cakep-cakepnya” sama sekali.
Misalnya saja tokoh Pattimura. Coba lihat perbandingan gambar di bawah ini. Sangat jauh berbeda bukan? Tokoh pattimura yang terpampang di uang kertas pecahan 1000 rupiah dibuat berdasarkan gambar sketsa di sebelah kiri.
Itu yang masih ada dasar pembuatan gambarnya. Lalu bagaimana jika seorang pahlawan nasional tidak ada gambarnya sama sekali? Entah berupa foto, lukisan atau hanya sekedar sketsa? Ya bikinnya suka suka pelukis. Kasarannya seperti itu, meski pelukis juga tidak akan membuatnya secara asal-asalan.
Di tahun 70-an Pelukis Basoeki Abdullah menerima order dari pemerintah untuk membuat lukisan tokoh pahlawan nasional yang sering kita lihat sekarang ini.
Ada sekitar sepuluh gambar pahlawan nasional buatan Pak Bas yang merupakan hasil imajinasi Beliau, salah satunya adalah Cut Nyak Dien karena Pak Bas tidak tahu sama sekali bagaimana rupa wanita itu. Tapi tetap saja, lukisan karya Beliau menjadi potret resmi Cut Nyak Dien yang diakui oleh pemerintah dan disebarluaskan ke masyarakat.
Tokoh Sisingamangaraja XII Misalnya. Tidak ada lukisan apapun yang bisa menggambarkan rupa sang Raja Batak ini. Lalu bagaimana cara sang pelukis yakni Agustin Sibarani membuat gambar lukisan tokoh tersebut?
Dia membuat riset dengan melihat gambar anak anak lelaki Sisingamangaraja XII yang dia anggap mirip dengan ayahnya. Dia juga bertemu dengan orang yang mengenal sang raja seperti rekan seperjuangan dan kurirnya untuk dimintai keterangan. Ketika lukisan nyaris selesai, dia didatangi oleh salah satu anak perempuan Sisingamangaraja XII yang sudah berusia 70-an.
Sang putri memberikan gambaran tentang bulu dada, jengggot, bentuk alisanya yang tebal, dan setelah di revisi, sang putri terkejut karena sosok dalam lukisan itu memang mirip dengan ayahnya.
