Penyebab Mengapa Kartini Dikenal Sebagai pahlawan Wanita yang Paling Dirayakan Hingga Sekarang, Dibandingkan Pahlawan-Pahlawan Wanita Lainnya
Pertama, mengapa hari Kartini bukan hari [sisipkan nama tokoh perempuan lain]? Hari Kartini yang kita rayakan berkait erat dg Kongres Perempuan Pertama 1928. Usulan Kongres ini antaranya penambahan sekolah untuk perempuan, pencegahan pernikahan anak, studie-fond untuk perempuan.
16 April 1929, RA Aisah Bintang Abdulkadir, salah satu tokoh Kongres, melalui Wanito Oetomo Purworejo (WOP) menyeru agar organisasi penyokong Kongres memperingati hari lahir Kartini dg hening cipta. WOP sendiri juga mengadakan pasar derma untuk keperluan beasiswa perempuan.
21 April 1929 itulah kali pertama Hari Kartini diperingati secara luas oleh organisasi perempuan di pelbagai tempat di Hindia. Sebelum itu peringatan hari Kartini memang sudah ada, baik hari lahir maupun wafatnya. Namun oleh segelintir kalangan saja, utamanya sekolah² Kartini.
Jadi nampak toh mengapa Kartini? Karena Kartini-lah yang bisa jadi ikon atas hal – hal yang diperjuangkan Kongres. Dari mana kita tahu? Ya baca saja surat-surat Kartini. Baca ide dan usaha kecil Kartini soal perempuan: dari hal pendidikan hingga posisinya dalam perkawinan.
Emm, tapi bukankah ada perempuan lain yang kiprahnya serupa Kartini? Ya ada. Namun ini bukan sekadar kiprah, ini ikon perjuangan. Macam Soekarno dalam kampanye politik masa kini deh. Apakah ada tokoh lain? Ada. Apakah ada yang sepopuler ia? Belum tentu, apalagi di tahun 1929.
Kok kata Kongres terus disebut? Sebab hal kedua yang kita gagal pahami: Hari Kartini lahir dari kesepakatan komunitas tertentu. Bukan seperti Hari Ibu yang ditetapkan Presiden. Nah, selain sinis, adakah komunitas yang sudah menginisiasi hari-tokoh-lain?
Ketidakpahaman ketiga yang juga menyedihkan adalah saat kita merendahkan Kartini untuk memuji tinggi tokoh lain. Dua tokoh yang kerap disebut: jurnalis Sitti Rohana Koedoes dan pendidik Raden Dewi Sartika. Kenapa menyedihkan? Karena kedua tokoh tsb sangat menghormati Kartini.
Penghormatan Dewi Sartika terhadap gagasan Kartini terlihat dari studi banding 4 bulannya di Wisma Pranawa, sekolah yang didirikan adik Kartini, Kardinah, di Tegal. Di sana, Dewi Sartika dan adiknya Sari Pamerat, antaranya belajar membatik untuk lantas diajarkan di sekolahnya.
Pun Rohana Koedoes, pendidik yang lalu jadi jurnalis perempuan pertama Hindia. Kiprahnya dalam dunia jurnalistik tak lepas dari mimpi mencerdaskan kaum perempuan, mengikuti jejak Kartini. Begitu mdnurut sang ayah, Rasad gelar Maharaja Soetan, kepada Oetoesan Melajoe, Maret 1921.
